Wazte  -  Smart Green Movement for Recycling

# Case Study


Dari 174.000 nasabah Bank Sampah se-Indonesia, 75% nasabah tidak lagi aktif setelah 1 - 2 tahun.

My Role

Wazte adalah startup yang berdiri karena sebuah masalah lingkungan (sampah). Kami mengamati bahwa 75% nasabah bank sampah tidak aktif lagi setelah 1 - 2 tahun, penyebabnya adalah pengambilan sampah tidak teratur dan tidak semua warga memiliki akses ke Bank Sampah. Founder nya terdiri dari 5 orang yang memiliki background yang berbeda-beda. Dan saya berperan sebagai orang yang bertanggung jawab atas Design User Interface dan User Experience Research.

Challenge

Kami suka melihat bumi yang hijau. Kami suka tinggal di atasnya. Bumi adalah rumah kami. Jika kehijauan bumi mulai terusik dengan banyaknya sampah, kami akan bergerak. Kami mulai mencari penyebabnya, dan kami menemukan sebuah pertanyaan yang urgent untuk ditemukan jawabannya.

Bagaimana memudahkan nasabah bank sampah yg sudah tidak aktif untuk kembali aktif dengan memanfaatkan teknologi internet?

Research

Sebelum mulai, Kami harus fokus untuk memastikan bahwa masalah yg akan kami selesaikan ini nyata dan kami harus tau siapa user-nya. Untuk mempercepat proses ini, kami menggunakan metode Javelin Board.

# Javelin Board

Sebelum membuat prototipe atau Minimum Viable Product (MVP), hal pertama yang harus kita lakukan adalah melakukan validasi ide terlebih dahulu, karena hal ini akan sangat menghemat waktu dan uang kita dari resiko kegagalan startup karena ide, problem, atau customer yg belum pasti. Dan salah satu caranya adalah dengan menggunakan papan validasi bernama Javelin Board. Setelah melakukan brain-storming, kami get out of the building untuk bertemu dengan stakeholder, kemudian iterasi, dan ini berlangsung berulang kali.

# User

Customer kami adalah seorang ibu rumah tangga yang mau memilah sampah namun tidak memiliki akses ke bank sampah. Kami menarik kesimpulan bahwa secara alami mereka lah yang berurusan dengan sisa makanan dan sampah di rumahnya. Selain itu, Ibu-ibu ini juga harus yang sudah terbiasa menggunakan smartphone, minimal menggunakan facebook. Mereka disebut dengan ibu-ibu sosialita. Karena wazte adalah app based, jadi kami kami merasa bahwa target kami sudah cukup spesifik.

Kesimpulannya customer kami adalah Ibu-ibu sosialita yang mau memilah sampah namun tidak memiliki akses ke bank sampah dan mereka sudah menggunakan smartphone.

Kemudian kami keluar gedung lagi untuk memastikan bahwa customer kami ini tepat. Ternyata 80% dari survey kami kepada ibu-ibu rumah tangga, mereka masih belum terbiasa untuk menggunakan handphone. Mereka hanya ingat beberapa aplikasi di handphonenya. Untuk aplikasi baru, mereka butuh waktu untuk belajar dan adapatasi. Tidak sedikit dari mereka yang masih menyuruh anaknya untuk mengirim sms atau bahkan menelpon seseorang.

Kami berfikir ulang, setelah melakukan user research, untuk merevisi target user kami. Kami tidak langsung mentarget ibu-ibu rumah tangga tadi, tetapi kami mentarget anaknya. Karena anak muda di Indonesia (mulai usia 17th) mulai aware dengan kebersihan lingkungan dan green lifestyle. Selain itu mereka adalah digital natives, ini akan sangat memudahkan kita untuk berinteraksi dengan mereka.

Ya, akhirnya kami mengubah user persona dan kami melakukan user research kami lagi untuk memastikan ke-valid-an nya. Sekarang Wazte mengajak pemuda-pemudi Indonesia untuk bergabung dalam sebuah gerakan peduli lingkungan dengan fokus kepada pembuangan sampah.

Design

Untuk memberikan kenyamanan kepada pengguna aplikasi, kami harus fokus pada fuctionality dan structure dari aplikasi, sehingga dari awal kami tau mana yg benar-benar di butuhkan oleh user.

Target kami adalah product launch dalam 3 bulan. Rapid Prototyping sangat membantu kami mewujudkan itu.

# Low-Fidelity

Fungsi utama dari membuat wireframe adalah agar mudah merancang tata letak (layout) sehingga kami mendapatkan gambaran secara umum aplikasi yang akan dibuat. Langkah wireframing sangat penting, karena memungkinkan desainer untuk memahami interaksi antara aplikasi dengan penggunanya tanpa ada gangguan dari warna, visual, atau memikirkan desain UI sejak awal.

# High-Fidelity

Tugas saya selanjutnya adalah fokus pada personalisation. Tujuannya adalah untuk meningkatkan user engagement dengan cara memposisikan diri kita sebagai user, sehingga dapat memperkirakan apa yang akan user butuhkan dalam menggunakan aplikasi ini. Saya menggunakan aplikasi Sketch App untuk design, dan beberapa Animasi dibuat dengan Principle for Mac.

Pihak Development dan Business harus terlibat dalam pengerjaan mockup ini. Manfaatnya adalah untuk mengatasi technical dificulty dalam development dan memprediksi product launch tepat waktu.

# Creating Prototype

Proses ini bertujuan untuk memastikan produk yang akan dibuat dapat dirasakan oleh stakeholder sehingga kami cepat mendapatkan feedback dan kami bisa melakukan improvement sesegera mungkin

Setelah mencoba banyak prototyping tools, saya menemukan InvisionApp adalah tools yg sangat cocok untuk memberikan user experience terbaik

Usability Testing

Usability testing adalah pekerjaan mengevaluasi produk kita dengan men-test-nya langsung pada pengguna. Biasanya, selama test, pengguna akan mencoba untuk menyelesaikan tugas-tugas yang telah kita buat sementara kita mengamati, mendengar, merekam, dan membuat catatan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi masalah sedini mungkin, mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif, serta menentukan kepuasan peserta terhadap produk kita.

Dengan cara ini, tim desain dan tim developer bekerja sama untuk mengidentifikasi masalah sebelum produk dikodekan. Semakin cepat masalah di temukan dan diperbaiki, kita akan bisa menghemat waktu dan cost development, serta produk akan di deliver sesuai jadwal.

RE-DESIGN

Berikut ini adalah beberapa App Pages dari final design kami. Untuk warga nasabah kami.

Dan Apps untuk driver kami.

Thank You.

# Read Another


ISO 9241
About UX Design

# Useful Article


SWEEP
Flash Deals

# Case Study